Memotret Bodobudur dari Punthuk Setumbu, Spot Foto Sejuta Umat

Judul tulisan ini muncul gara-gara seorang teman blogger yang berkomentar di foto yang saya unggah di akun Instagram saya. “Spot sejuta umat,” begitu, Sasha, teman saya itu, mengungkapkan. Saya tidak menyangkal kata teman saya. Punthuk Setumbu memang sudah tenar jauh sebelum saya menekuni fotografi. Saya sendiri sebenarnya sudah mengetahui tempat ini sekitar tujuh tahun silam. Ketika itu, saya masih tinggal di Yogya dan bekerja sebagai redaktur portal kebudayaan Melayu online.

Waktu itu, saya terpesona oleh foto-foto Candi Borobudur maupun lanskap di sekitarnya yang diambil dari ketinggian. Meski begitu, tidak terbayang di benak saya waktu itu untuk menciptakan foto serupa. Fotografi jauh dari cita-cita saya. Saya sadar memotret butuh kamera, dan kamera, jika ingin punya sendiri, harganya tidak murah. Tentu saja tidak murah menurut kantong saya yang tipis.

_MG_3832-1-3
Candi Borobudur di antara kabut.

Kini, setelah tujuh tahun berlalu, saya baru bisa mengunjungi bukit Punthuk Setumbu dengan tujuan yang jauh dari bayangan saya beberapa tahun silam: memotret Candi Borobudur dari ketinggian. Pesona foto-foto dari bukit itulah yang mendorong saya ke Punthuk Setumbu. Pesona Candi Borobudur di antara kabut pagi dan pemandangan mempesona dua gunung di kala matahari terbit. Saya tahu, foto serupa sudah ribuan, baik hasil bidikan fotografer profesional atau pun amatiran seperti saya.

Sebagai tempat wisata yang hanya beberapa kilometer dari Candi Borobudur, Punthuk Setumbu juga menjadi tujuan favorit para wisatawan. Ditambah lagi, bukit ini makin sohor karena film AADC 2. Begitu pula dengan Gereja Ayam yang hanya beberapa kilometer di bawah Punthuk Setumbu. Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam tak pernah sepi pengunjung, apalagi di musim liburan maupun akhir pekan.

_MG_3800-1
Gunung Merapi.

Saya berangkat bersama teman kuliah dari Jogja dini hari. Motor kami melesat cepat di jalanan menuju Magelang yang masih lengang. Kami harus sampai di lokasi sebelum tiba waktu subuh. Angin dingin menerpa kami tubuh kami. Dingin angin pegunungan itu seolah menembus pori-pori membuat tangan menggigil.

Sekitar setengah jam sebelum waktu subuh, kami sudah sampai di parkiran depan gerbang masuk ke Punthuk Setumbu. Loket baru dibuka ketika kami sampai. Baru empat orang termasuk saya dan teman saya yang tiba. Setelah membeli tiket, kami naik ke puncak bukit.

_MG_3832-1
Candi Bodobudur dalam kepungan kabut. Ini versi asli foto hitam-putih di atas, yang belum saya edit  dan ubah ke dalam versi bw.

Waktu subuh tiba beberapa menit lagi. Saya berkeliling mencari spot untuk memotret. Saya mencoba beberapa angle dan memperkirakan di mana posisi candi, gunung, dan munculnya matahari. Segera saya pasang tripod begitu memperoleh posisi untuk mengambil gambar, meski terbit matahari masih beberapa jam lagi. Memotret di tempat yang penuh pengunjung memang harus datang lebih awal datang. Harus lebih awal mencari posisi yang strategis tanpa terhalang orang atau benda lain.

Tepat di depan saya, jauh di depan sana, gunung Merapi dan Merbabu berdiri tegak. Lampu-lampu tampak bersinar kuning di kaki gunung. Saya mencari di mana letak Candi Borobudur, namun tidak ketemu karena suasana di depan sana masih gelap. Saya hanya menerka-nerka dari lampu-lampu yang terlihat di bawah sana.

_MG_3815-1
Gunung Merapi di pagi hari. Kabut di sekitar Borobudur terlihat putih mengambang di udara.

Pagi itu, menurut aplikasi Photographer Ephemeris, matahari akan terbit di antara Gunung Merbabu dan Merapi. Tepatnya, di punggung sebelah kiri Gunung Merapi dari tempat saya berdiri. Aplikasi ini menjadi panduan saya ketika menentukan posisi matahari terbit, berapa jarak saya dengan subyek yang saya foto, serta pukul berapa matahari akan terbit serta tenggelam.

Pada kondisi di mana matahari terbit di sebelah kiri Gunung Merapi, saya tidak mungkin menggabungkan matahari, gunung, dan candi dalam satu frame. Candi Borobudur akan terlihat sangat kecil di antara kedua subyek foto lainnya. Oleh karena itu, saya memilih memisahkan ketiganya. Memotret gunung, matahari terbit, dan pemandangan sekitarnya kemudian memotret candi di antara kabut pagi secara terpisah.

Di luar pertimbangan kondisi subyek yang saya foto, saya juga mempertimbangkan peralatan yang saya miliki. Untuk memotret Candi Borobudur agar terlihat tidak terlalu kecil, saya menggunakan lensa tele. Sementara untuk memotret pemandangan sekitarnya, termasuk dua gunung di depan, saya menggunakan lensa 18-55mm yang sering disebut lensa kit. Saya juga membawa lensa fix 50mm. Sayangnya, pagi itu kabut terlalu tebal sehingga gambar yang saya peroleh tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

_MG_3823
Matahari terbit di antara Gunung Merapi dan Merbabu. Kabut tebal menutupi pemandangan di bawah sana.

Sinar terang mulai merembang di ufuk timur. Dua gunung di depan saya tampak berdiri kokoh di tengah kepungan kabut. Gunung itu tampak kelam, seolah menyimpan banyak misteri. Pengunjung berderet di gigir tebing yang diberi pagar dari besi dan bambu. Penuh dari ujung ke ujung. Sebagian lagi berada di belakangnya, sibuk swafoto, memotret temannya, serta turut mengabadikan pemandangan di depan saya di bawah matahari pagi.

_MG_3858-1
Gunung Sindoro terlihat dari bangunan kepala Gereja Ayam.

Matahari berkilau di punggung Gunung Merapi. Kini bentuknya sudah bundar penuh. Beberapa kali saya memotret Candi Borobudur di sela-sela kabut tebal yang menyelimutinya. Candi itu timbul tenggelam di bawah kabut tebal. Saya mulai mengemasi peralatan kamera karena Candi Borobudur terus tenggalam dalam halimun tebal. Saya melanjutkan perjalanan ke tempat yang tak kalah pupoler: Gereja Ayam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s