Bertualang di Bumi Blambangan, Pesona Wisata di Antara Mitos dan Legenda

Kereta Mutiara Timur Malam yang mengangkut saya dari Surabaya perlalan menjauh bersama gemuruh suaranya. Stasiun berangsur sepi setelah kereta berlalu. Hanya beberapa penumpang yang turun di stasiun ini, termasuk saya. Sedikit keriuhan mereka mengisi stasiun yang sedari tadi sunyi. Namun, tak berapa lama, begitu para penumpang itu melewati pintu keluar, stasiun kembali senyap.

Dini hari saya turun di Stasiun Kalisetail yang terletak di Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Stasiun ini berjarak tiga stasiun sebelum perhentian terakhir, Stasiun Banyuwangi Baru. Stasiun Kalisetail menjadi persinggahan kereta yang menuju Banyuwangi maupun dari Banyuwangi ke arat barat, seperti Surabaya dan Yogyakarta.

Subuh masih jauh, artinya saya harus mencari tempat beristirahat sembari menunggu pagi. “Mushala di mana ya, pak?” Saya bertanya ke petugas keamanan stasiun. “Itu di pojok,” jawabnya. Saya menuju ke tempat yang ia tunjuk. Di emperan mushala, saya lihat seorang petugas keamanan sedang tidur beralas selembar karpet. Dua buah gelas kopi berada di dekatnya.

Setelah menyelesaikan shalat isya yang hampir mendekati akhir waktu, saya duduk di sebelah petugas keamanan itu, bersandar ke dinding mushala. Rasa kantuk dan lelah perjalanan mulai menyerang. Saya mencoba tidur. Namun, hingga beberapa saat, saya hanya bisa memejamkan mata. Ada kesunyian yang tiba-tiba bersarang di dada, sementara pikiran mengembara jauh.

Saya kembali membuka mata, memandangi rumah-rumah yang berjajar di belakang stasiun beberapa meter di hadapan saya. Saya membayangkan penghuninya sedang tidur nyenyak di kamarnya yang hangat. Betapa sepinya diri saya di tengah stasiun asing ini. Saya merasa begitu jauh dari rumah. Padahal, tanah yang saya pijak masih di Pulau Jawa dan beberapa saat lagi teman saya datang menjemput. Bagaimana rasanya menjadi mereka yang sendiri di luar sana, jauh dari rumah dan saudara, atau mereka yang terasing di negeri seberang dan tidak bisa pulang karena suatu hal? Apa arti kampung halaman bagi mereka? Sebatas ingatan yang perlahan pudar atau rindu yang tak terobati?

_MG_2004
Bahkan, sungai pun dipacaki di Banyuwangi.

Saya masih sulit percaya akhirnya bisa tiba di stasiun ini. Saya ingat kepanikan di perjalanan setiba di Surabaya beberapa jam lalu. Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Surabaya sekitar pukul 9, molor setengah jam lebih dari jadwal semestinya. Sementara saya juga harus mengejar jadwal kereta ke Banyuwangi. “Pak kereta saya jam sepuluh,” kata saya begitu duduk di belakang sopir taksi. “Jam sepuluh?” sopir taksi bertanya. “Iya,” jawab saya. “Saya usahakan, pak,’ jawab sopir. Keluar dari parkiran stasiun, taksi yang saya tumpangi langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Dalam hati saya girang karena itu tandanya saya bakal lebih cepat sampai stasiun.

Lepas dari jalan tol, jalanan mulai ramai kendaraan. Saya beberapa kali menengok jam di layar telepom genggam, menghitung jarak dan memperkirakan waktu. Di depan sebuah mal, yang saya lupa namanya, mobil kami terhenti. Di depan mobil saya, puluhan kendaraan berbaris-baris, tidak ada yang bergerak. Saya sudah pasrah di tengah kemacetan itu. Waktu keberangkatan kereta tinggal beberapa belas menit lagi. Sopir taksi saya mulai mengomel. Katanya, di depan sana ada pembebasan lahan untuk jalan raya. “Kenapa lho, pembebasan lahannya pas di jam sibuk begini”, gerutu sopir taksi dengan logat Surabaya yang kental.

Sopir itu menggerutu atas kemacetan di depannya dan memuji walikota Surabaya sekaligus. Katanya, Ibu Risma adalah sosok yang tegas dan berani dalam memimpin Surabaya. Ia mulai bercerita bagaimana penataan Surabaya yang tidak pandang siapa pun. Dari kursi belakang saya hanya menyimak apa yang ia sampaikan.

Saya mulai berpikir mencari alternatif transportasi ke Banyuwangi. Saya menengok tiket kereta untuk esok hari, sudah habis terjual untuk keberangkatan pagi dan malam. Saya sudah berpikir untuk naik bis. “Merokok ndak, mas?” tanya sopir taksi. “Tidak, pak. Kenapa, pak?” jawab saya. “Ya, kalau mau merokok silakan. Biasanya kan orang merokok kalau gelisah.” Rupanya ia tahu kalau saya gelisah sejak mobil kami keluar dari pintu tol.

Begitu terbebas dari kemacetan panjang itu, sopir langsung melajukan kendaraan dengan cepat. Mobil kami meliuk menghindari beberapa kendaraan lain di riuh jalanan Kota Surabaya. Beberapa kali ia menyakatakan kami sudah dekat dengan stasiun. Keresahan saya sedikit berkurang.

Sepuluh menit sebelum keberangkatan kereta, kami tiba di stasiun. Stasiun Gubeng malam itu tidak banyak calon penumpang. Setelah mengucapkan terima kasih pada pak sopir, saya terbirit-birit ke arah counter check-in, mencetak tiket, melewati pintu pemeriksaan tiket, lantas melompat ke gerbong kereta.

_MG_2157-1
Teluk Hijau yang merupakan salah satu destinasi wisata di Banyuwangi.

Banyuwangi: Pesona Wisata di antara Mitos dan Legenda

Membat mayun Paman
Suwarane gendhing Blambangan
Nyerambahi nusantara
Banyuwangi, kulon gunung wetan segara
Lor lan kidul alas angker
Hang keliwat-liwat
Blambangan… Blambangan
Aja takon seneng susah hang disangga
Tanah endah, gumelar ring taman sari nusantara
He… Blambangan, He… Blambangan
Gumelar ring taman sari nusantara

(Mengalun merdu Paman
Suara gending Blambangan
Merambah ke seluruh nusantara
Banyuwangi, barat gunung timur samudera
Utara dan selatan hutan angker
Yang berlebih-lebih/ yang sangat
Blambangan… Blambangan
Jangan tanya senang susah yang ditanggung
Tanah indah, terhampar di taman sari nusantara
He… Blambangan, He… Blambangan
Terhampar di taman sari nusantara)

Petikan syair lagu di atas akhir-akhir ini sering mengalun di kepala saya. Entah bagaimana awalnya, beberapa bulan sebelum berangkat ke Banyuwangi, saya menemukan video dagelan Cak Percil di Youtube. Belakangan saya tahu, Cak Percil yang di panggung berpasangan dengan Cak Yudho itu, berasal dari Banyuwangi. Sejak pertama kali menemukan video itu, saya terus mengikuti video duo dagelan ini dari panggung ke panggung. Mulai panggung pementasan wayang kulit hingga acara campursari Guyon Maton yang dipimpin Cak Percil sendiri.

Dari beberapa pertunjukan itulah saya mulai mengetahui lagu-lagu Banyuwangi yang rata-rata berbahasa Using. Lebih luas dari sekedar lagu “Edan Turun”, “Kanggo Riko”, atau “Lungset” yang selama ini saya kenal dari panggung dangdut koplo. Termasuk petikan syair di atas yang merupakan kutipan syair lagu Umbul-umbul Blambangan. Dalam pementasan, kutipan lagu itu dinyanyikan sebagai bawa, yakni vokal pembuka sebelum masuk ke lagu atau gending. Biasanya, bawa dengan syair di atas menjadi awalan lagu “Gelang Alit”.

Umbul-umbul Blambangan cukup populer di kalangan masyarakat Banyuwangi hingga saat ini. Lagu yang juga berbahasa Using ini, diciptakan oleh Andang Chotif Yusuf pada 1974. Secara umum tembang ini menggambarkan kondisi geografis Banyuwangi, kegigihan dan perjuangan masyarakat, dinamika sejarahnya, dan tekad untuk membela bumi Blambangan.

_MG_1964-1
Kawah Ijen.

Banyuwangi, sebagaimana ungkapan penggalan tembang di atas, merupakan hamparan alam yang terdiri dari laut, hutan, dan gunung. Beberapa gunung tampak menjulang di sebelah barat Banyuwangi, seperti Gunung Argopuro dan Gunung Raung juga Semeru atau lebih ke barat lagi ada Semeru dan Bromo. Sementara di timur menghampar lautan yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Di utara dan selatan, hutan taman nasional membentang luas, yakni Taman Nasional Baluran, Meru Betiri, dan Alas Purwo. Di zaman di mana hutan semakin tipis, belantara di tanah Blambangan masih lebat dan angker.

Keangkeran hutan ini tak pelak saya rasakan ketika hendak berkunjung ke Alas Purwo. Dalam beberapa kesempatan, teman saya mengatakan kalau ke Alas Purwo tidak usah berniat macam-macam. “Kalau mau ambil gambar, ya sudah, niatnya ambil gambar saja,” begitu kata Mas Rohman. Ini melengkapi cerita sebelumnya, waktu pagi pertama saya tiba dan berbincang dengan teman-teman di Genteng, Banyuwangi. Dari perbincangan itu, kami sempat menyinggung tentang Alas Purwo. Kewingitan belantara ini memang sudah terkenal hingga ke pesolok Indonesia. Banyak pengembara spiritual yang menjadikan hutan ini untuk bertapa. “Bahkan, malam satu suro tahun kemarin ada lima ribu sekian masuk Alas Purwo,” kata Hendry Juliant, teman sekaligus tuan rumah saya selama di Banyuwangi.

Di luar soal cerita-cerita mistis, ritual upacara pun masih menjadi bagian dari masyarakat Banyuwangi sampai sekarang. Misalnya, upacara sadap nira, barong di Desa Kemiren, kebo-keboan di Alasmalang, dan seblang di Olehsari dan Bakungan. Bahkan, ombak pun dimantrai dan dilakukan ritual agar menjadi seperti yang dikehendaki. Selain itu, magi dari Banyuwangi juga tak kalah terkenalnya. Sebut saja satu misal, Jaran Goyang, yang namanya sudah saya sejak kecil. Jaran Goyang merupakan salah satu mantra pengasihan berasal dari Banyuwangi.

Selain indah bentang alam dari barat ke timur, utara ke selatan, Banyuwangi juga kaya akan mitos dan legenda. Kisah Dewi Sri merupakan salah satu mitos dalam tradisi lisan di daerah ini yang juga sering terkait dengan upacara. Beberapa nama sering terkait dengan legenda, termasuk nama Banyuwangi sendiri yang menjadi bagian dari legenda Sri Tanjung. Dalam legenda tersebut, Sri Tanjung, perempuan keturunan bidadari itu, menemui ajal di tangan suaminya sendiri yang gelap mata karena termakan fitnah dan hasutan.

_MG_2403-1
Padang Sadengan di Taman Nasional Alas Purwo.

Rupanya pemerintah cerdik menangkap peluang dari keindahan alam yang berpadu dengan kekayaan budaya Banyuwangi. Beberapa tahun belakangan, pemerintah Banyuwangi mulai gencar berpromosi. Beberapa upacara, ritual, tari-tarian tradisional serta berbagai acara lain diramu dalam bentuk festival tahunan di bawah judul Banyuwangi Festival. Kekhasan kuliner tanah Blambangan ini juga menjadi andalan, misalnya Sega Tempong, Pecel Pitik, Uyah Asem, juga kopi Jaran Goyang dari Desa Kemiren. Berbagai agenda dan pesona wisata ini dipromosikan lewat berbagai media, mulai dari baliho, media fotografi dan video, hingga penggunaan media sosial.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana promosi wisata ini juga dilakukan secara besar-besaran di luar media sosial yang biasanya saya ikuti. Dalam pengamatan saya, sepanjang jalan yang saya lewati di Kecamatan Genteng tempat saya menginap, hingga ke desa-desa di pinggir hutan Alas Purwo, terpampang baliho besar agenda festival selama setahun. Bahkan, saya pernah melihat reklame sejenis di sebuah sekolah dasar desa yang jauh dari kota dan sepi.

Pesona wisata alam di ujung timur tanah Jawa ini terdiri dari kawasan hutan, pesisir, gunung. Ada banyak pantai di Banyuwangi yang menyimpan keunikannya masing-masing, misalnya pantai Pulau Merah yang indah di waktu senja, atau Teluk Hijau yang seperti nirwana di tepi hutan Meru Betiri, Pantai Plengkung dengan ombak besar kesukaan peselancar, dan masih banyak lagi. Kawah Gunung Ijen menjadi salah satu tujuan turisme yang sudah sohor sejak dulu karena api birunya. Sementara hutan di Taman Nasional Alas Purwo juga menjadi salah satu andalan wisata kawasan alam di Banyuwangi.

_MG_2191-1
Senja indah di pantai Pulau Merah.

Butuh waktu lama untuk menjelajahi wisata di Banyuwangi, kata Hendry begitu saya tiba di rumahnya. “Soalnya, tempatnya jauh-jauh,” lanjutnya demi melihat agenda saya yang hanya lima hari dengan berbagai tujuan wisata. Saya tak menampik pernyataan Hendry begitu melakukan perjalanan ke destinasi pertama, Gunung Ijen. Dari Kota Banyuwangi mencapai pos pendakian Gunung Ijen butuh waktu hampir 3 jam. Sepanjang jalan itu, saya yang ditemani Mas Wahyu adik Hendry, melewati kawasan hutan primer yang lebat. Jalan yang kami lalui sudah banyak lubang di sana-sini, meski tidak terlalu parah. Jalanan mendaki, sepi dan basah setelah beberapa saat lalu turun hujan.

Hal yang serupa juga berlaku untuk destinasi lain yang saya datangi, seperti Teluk Hijau, Taman Nasional Alas Purwo, maupun pantai Pulau Merah. Perjalanan ke masing-masing destinasi wisata tersebut butuh waktu setidaknya dua hingga tiga jam dari kota Banyuwangi. Jalan ke Taman Nasional dan Teluk Hijau bahkan lebih parah dari jalan menuju Gunung Ijen. Hanya akses jalan ke Pulau Merah yang saya rasa bagus sejak dari kota hingga memasuki area pantai. Namun, keelokan destinasi wisata ini menutupi kekurangan soal jalan yang harus ditempuh.

Selain soal jarak yang terpaut jauh dari kota, akses transportasi umum ke tempat wisata juga masih belum banyak terlihat. Kalau toh ada, masih butuh transportasi lanjutan ke tempat yang dituju dengan kendaraan pribadi. Selama beberapa hari menyusuri jalanan Banyuwangi, hanya beberapa kali saya berpapasan dengan angkutan umum. Solusinya, pengunjung luar kota harus menggunakan kendaraan sendiri ataupun menyewa untuk mencapai tempat wisata yang dituju.

Rabu pagi, setelah beberapa hari bertualang di bumi Blambangan, kereta Mutiara Timur kembali membawa saya ke Surabaya. Di sebelah saya duduk Mas Denny yang baru saja saya kenal. Ia hendak pergi ke Labuan Bajo untuk membuka usaha rental motor bagi wisatawan di sana. Kami sempat berbincang tentang sulitnya transportasi publik ke tempat wisata di Indonesia, dan itu pula alasannya membuka rental motor di daerah itu. Kini ia sudah asyik dengan layar ponselnya. Saya pun sibuk dengan pikiran saya sendiri. Di sebelah kanan saya persawahan menghijau terbentang sepanjang laju kereta. Banyuwangi makin jauh di belakang. Saya pulang dari bumi Blambangan dengan banyak cerita.

Iklan

One thought on “Bertualang di Bumi Blambangan, Pesona Wisata di Antara Mitos dan Legenda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s