Jelajah Kuliner Khas Using di Kedai Kemangi

Jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, bolehlah mencicipi sajian kuliner khas masyarakat Using, masyarakat asli Banyuwangi. Saya pribadi sebenarnya tidak begitu memprioritaskan soal kuliner ketika melakukan perjalanan ke suatu tempat. Akan tetapi, kali ini berbeda. Saya penasaran dengan menu di Kedai Kemangi yang katanya khas Using. Saya ingin mencecap pecel pitik, masakakan yang harus (hanya) ada dalam ritual atau selamatan orang Using.

_MG_2033-1

Kedai Pesantogan Kemangi atau kadang disebut Pesantogan Kemangi berada Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Desa Kemiren merupakan salah satu desa adat Using Pesantogan berarti tempat berkumpul atau istilah kerennya tempat nongkrong. Dari arah gerbang masuk ke Desa Kemiren, Pesantogan Kemangi terletak di kiri jalan. Kedai Kemangi merupakan usaha milik Desa Kemiren yang dikelola oleh karang taruna.

Bangunan kedai berbentuk tikel balung, bentuk rumah khas Using, yang terbagi menjadi dua bagian. Kedua bangunan ini terbuat dari kayu dan bambu. Bangunan depan, yang berada di sebelah pintu masuk, mempunyai dua ruang utama yang dipisahkan oleh kasir dan tempat pemesanan makanan. Sementara bangunan di belakang, berupa ruang mirip pendopo yang hanya mempunyai satu dinding di belakang. Di sini terdapat panggung kecil beserta beberapa alat musik tradisional Banyuwangi.

Pesantogan Kemangi memang menempati lahan yang tidak terlalu luas. Tapi, jangan salah kira, kedai ini tak pernah sepi pengungjung, terutama di akhir pekan. Menjelang sore, saya lihat beberapa pengunjung kecewa karena pecel pitik yang ia ingin pesan sudah habis. Katanya, kalau ingin menikmati pecel pitik dan uyah asem di akhir pekan, harus pesan dulu, terlebih jika pengunjung baru datang menjelang sore hingga malam.

Kedai ini menyajikan berbagai jenis kuliner tradisional dan khas masyarakat Using. Menurut saya, ada tiga sajian yang sulit, bahkan tidak akan, ditemui di daerah lain. Ketiganya adalah pecel pitik, uyah asem, dan kopi Jaran Goyang. Mengingat perut saya tidak bisa memuat banyak makanan, saya hanya memesan pecel pitik dan kopi Jaran Goyang.

Kesan saya terhadap pecel pitik adalah, sekilas masakan ini seperti urap daging ayam. Ini pertama kalinya saya melihat dan makan pecel pitik. Tapi, harus saya akui, meskipun ini pengalaman pertama, pecel pitik masakan Pesantogan Kemangi enak di lidah. Pecel pitik terdiri dari ayam kampung yang disuwir-suwir dengan bumbu parutan kelapa bercampul sambal kacang dan kemiri. Sambal kelapa ini sedikit berair, tidak seperti urap yang lebih kering. Ayam yang menjadi bahan pecel pitik adalah ayam kampung muda yang dibakar di tungku berbahan bakar kayu.

Kopi yang saya pesan adalah merek kopi khas Kemiren. Ada dua jenis kopi yang bisa dipilih, yakni kopi arabica dan robusta. Keduanya memiliki kecenderungan rasa dan kandungan kafein yang berbeda. Begitulah yang saya baca di lembaran menu yang disodorkan pada saya. Walaupun minum kopi, saya bukan jenis pecandu kopi yang paham berbagai jenis, rasa, serta seluk-beluk terkait kopi. Saya justru terpesona oleh nama menu kopi yang ditawarkan: Jaran Goyang.

_MG_2015-1
Kopi Jaran Goyang. Boleh dicoba buat yang jomblo.

Kata Jaran Goyang sudah tidak asing di telinga saya sejak saya kecil. Saya juga masih ingat kalimat pembuka mantra itu: “Niat isun matek aji Jaran Goyang”. Dalam pengetahuan masa kecil saya, Jaran Goyang adalah ilmu sihir pengasihan yang paling ampuh. Mantra Jaran Goyang menyimpan kekuatan sakti yang bisa membuat seseorang jatuh cinta hingga level tergila-gila, bahkan bisa benar-benar menjadi gila. Orang yang terkena pengasihan Jaran Goyang akan terbayang-bayang atau menyebut-nyebut nama si penyihir sebagai ekspresi rasa cinta. Belakangan saya tahu, Jaran Goyang ini merupakan mantra ciptaan Wong Blambangan, mantra asli dari Banyuwangi. Makanya, tidak salah kalau merek kopi dari Kemiren ini adalah Jaran Goyang.

Mungkin karena saya bukan pecinta kopi dan pengetahuan soal kopi terbatas, saya tidak bisa merasakan keunikan kopi Kemiren itu. Saya menikmati kopi Jaran Goyang lebih karena kedekatan label kopi ini dengan pengalaman masa kecil saya.

Sepiring pecel pitik dan secangkir kopi sudah cukup memuaskan rasa penasaran dan mengisi perut saya hari itu. Rasa kantuk mulai menghampiri, biarpun saya sudah meneguk kopi arabica satu cangkir. Matahari mulai turun di langit barat. Kedai Kemangi mulai ramai oleh kedatangan satu rombongan yang kemudian mengisi dua meja di seberang meja saya. Satu rombongan lagi datang setelahnya dan belum mendapatkan tempat dulu. Saya bangkit menuju kasir dan menyelesaikan jelajah kuliner khas Using di Kedai Kemangi.

Iklan

3 thoughts on “Jelajah Kuliner Khas Using di Kedai Kemangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s