Menyusuri Nirwana di Tepi Hutan Meru Betiri

Saya berdiri di antara tebing dan karang yang tegak dihantam ombak tak henti-henti. Sementara angin laut terus berdesir membawa aroma asin dan rasa lengket di kulit. Beberapa kali saya terpeleset di batu-batu karang yang basah dan licin. Saya mengintip riak air laut dari jendela bidik kamera bak seorang tentara mengintai musuh. Setiap datang kesempatan, saya langsung memencet tombol rana.

_MG_2115-1
Berdiri di antara tebing dan karang.

Teluk Hijau, begitu tempat ini diberi nama. Sebuah teluk asri di tepi hutan kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Kata hijauΒ  yang disematkan sebagai nama teluk ini tampaknya bukan kiasan yang berlebihan. Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat air laut berwarna biru kehijauan, kontras dengan warna langit yang putih. Sementara, di belakang dan samping saya adalah rimbun belantara. Air laut dan lebatnya hutan yang mengepung teluk ini seolah menyatu menjadi satu karakter: hijau.

Teluk Hijau masuk dalam rangkaian pesisir selatan Pulau Jawa yang bersinggungan langsung dengan Laut Selatan. Tidak mengherankan jika ombak di teluk ini juga besar. Pada waktu saya tiba, beberapa anak muda berdiri di bibir pantai. Tubuh mereka kuyup oleh air laut. Rupanya mereka baru naik ke darat, sebab gelombang air laut terlalu besar untuk nekad berenang. Sementara para pengunjung lain sibuk foto-foto. Ada pula yang hanya duduk-duduk sambil bercanda. Di ujung pantai depan saya tampak beberapa perahu terombang-ambing menunggu penumpang yang ingin kembali ke Pantai Rajegwesi yang terletak di tepi jalan Desa Sarongan.

_MG_2157-1
Lanskap Pantai Teluk Hijau

Saya memulai perjalanan ke teluk ini dari Genteng, sebuah kecamatan di Banyuwangi bersama Mas Rohman, teman yang sekaligus memandu saya. Kami menyusuri jalan sepanjang kira-kira 60 kilometer dalam waktu hampir tiga jam. Beberapa bagian jalan yang kami tempuh belum sepenuhnya beraspal. Melewati jalan perkebunan milik PTPN, jalan berlubang di sana-sini, tergenang sisa air hujan bak kolam-kolam kecil berderet-deret.

Beberapa ratus meter setelah pos pintu masuk wisata hingga ke tempat parkir kawasan Teluk Hijau, jalanan makin menantang. Kami harus melewati jalan makadam dengan bebatuan besar mendominasi. Batu-batu itu tertata sedemikian rupa di jalan bergelombang dan mendaki. Motor yang kami tumpangi tampak kesulitan merambah jalan berbatu itu. Beberapa kali kendaraan kami terantuk batu yang menonjol tak beraturan di sana-sini.

Di tikungan, kami meminggirkan motor ke kiri ke tempat parkir di pinggir jalan. Dua penjaga parkir, yang saya perkirakan telah memasuki usia pensiun, ramah menyambut kami. Mereka adalah penduduk sekitar Teluk Hijau. Dari tempat parkir, saya memandang laut yang berdebur-debur di bawah sana. Seketika rasa capek bercampur kesal karena kondisi jalan, luruh oleh bentang alam di depan saya.

_MG_2180-1
Pemandangan laut dari sebelah tempat parkir.

Tampaknya perjuangan kami belum selesai. Di depan saya, setelah berjalan mendaki jalanan berbatu dari tempat parkir, terpampang petunjuk Teluk Hijau masih 1 kilometer lagi. Jarak yang dimaksud papan petunjuk itu adalah jalan setapak menyisir sisi selatan hutan Meru Betiri. Jalan terjal naik-turun itu membuat keringat saya mengalir deras. Jauh di atas sana, tertutup oleh pepohonan rimbun, matahari bersinar terik. Belum setengah perjalanan, pegal-pegal di kaki sisa mendaki ke Kawah Ijen sehari sebelumnya mulai terasa.

Usai melintasi jalan setapak, lanskap pantai terbentang menyambut kedatangan saya. Di depan saya terhampar pantai dengan batu-batu berbagai ukuran bertebaran menutupi hampir seluruh permukaannya. Setiap kali melangkah, terdengar suara batu-batu di bawah kaki saya bergesekan. Saya berasa berjalan di atas pasir yang gembur karena saking rapuhnya tumpukan bebatuan tersebut. Di pinggir pantai ini berbagai jenis pepohonan juga tumbuh lebat. Tapi, Tunggu! Ini bukan Teluk Hijau, ini Pantai Batu. Teluk Hijau masih beberapa puluh meter lagi di depan.

_MG_2078-1
Pantai Batu.

Setelah berjalan melewati jalan setapak di bawah rimbun pohon, panorama Teluk Hijau indah terhampar. Pesisir ini berpasir putih kekuningan, terasa lembut di bawah sepatu saya. Ombak terus bergerak bertalu-talu ke arah daratan yang landai dengan kemiringan hampir tiga puluh derajat. Berkali-kali air laut itu memburu daratan, berkali-kali pula ia kembali surut ke belakang. Mengamati ombak itu, saya membayangkan Sishypus dalam dongeng mitologi Yunani berabad silam. Hanya sesekali air laut itu mencapai daratan yang lebih jauh, tapi tak pernah benar-benar sampai ke tempat lebih tinggi. Apakah perjuangan ombak demi daratan itu sia-sia? Tergantung dari mana kita melihat, yang jelas air laut tak pernah putus membasahi daratan.

Teluk Hijau secara administratif masuk di kawasan Desa Sarongan, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi. Garis pantai membentuk garis melengkung sepanjang 3 kilometer. Teluk ini diapit oleh tebing karang di kanan dan kirinya yang juga tertutup rimbun tetumbuhan. Keasrian teluk ini makin cantik dengan hadirnya Air Terjun Bidadari di tebing sebelah kanan saya yang berdiri menghadap laut. Air mengucur dari tebing setinggi delapan meter yang sayangnya debit air sedang surut ketika saya berkunjung.

_MG_2153-1
Air laut bergerak mundur setelah berhasil membasahi sepatu saya.

Saya asyik dengan kamera, sementara Mas Rohman duduk berbincang dengan kenalan baru di pinggir pantai. Matahari sudah agak lingsir ke barat. Beberapa kali sinarnya tertutup awan tipis. Saya sedang sibuk mengabadikan bentang lautan ketika tiba-tiba ombak mengejar dan mencapai tempat saya berdiri. Refleks saya langsung angkat tripod dan bergerak mundur. Kamera saya selamat dari ganasnya air laut. Apes, air laut berhasil meredam sepatu saya hingga di atas mata kaki. Beruntung saya memakai sepatu tahan air sehingga air tidak menembus ke telapak kaki.

Belum puas saya bermain-main dengan kamera, Mas Rohman memanggil dari belakang. Sudah hampir asar saat itu, dan kami harus mengunjungi Pantai Pulau Merah. Saya berbalik, melepas kamera dari tripod, kemudian mengemasi barang-barang. Saya memindai pantai Teluk Hijau untuk terakhir kalinya dari ujung ke ujung. Akhirnya, kami melangkah meninggalkan pasir putih yang berkilap disinari mentari, meninggalkan nirwana di tepi hutan Meru Betiri, demi memburu senja di Pantai Pulau Merah.

Pedoman Perjalanan:
Lokasi:
Teluk Hijau terletak di Desa Sarongan, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi.

Rute:
Teluk Hijau berjarak 80 km lebih dari Kota Banyuwangi ke arah barat daya, dapat dicapaiΒ  selama hampir 3 jam mengingat kondisi jalan yang buruk di beberapa titik. Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum jarang. Bahkan, tidak ada yang sampai ke lokasi.

Akomodasi:
Penginapan di sekitar Teluk Hijau tidak banyak. Setahu saya, di Sarongan terdapat satu homestay namanya Raflesia Homestay Meru Betiri terletak di pinggir jalan menuju Rejegwesi/ Teluk Hijau. Persiapkan makanan dan minuman sebelum masuk Desa Sarongan, di sini tidak ada warung kelas restoran.

Tiket:
Tiket masuk Rp. 7.500
Parkir motor Rp 5.000

Jika Anda butuh pemandu bisa hubungi teman saya, Mas Rohman, di no. 0813 5844 5215. Mas Rohman ini dulu yang memandu tim Wonderful Indonesia membuat video wisata di Banyuwangi. Asal tidak rewel, urusan Anda di Banyuwangi selesai sama dia..hehe.

Iklan

4 thoughts on “Menyusuri Nirwana di Tepi Hutan Meru Betiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s