Halimun Turun di Penanjakan

Saya terbangun ketika mobil yang saya tumpangi berjalan terseok-seok. Saya menengok ke arah kanan berusaha menembus kegelapan, namun tak terlihat apapun selain gelap. Saya mengalihkan pandangan ke depan. Di depan sana, dalam terang sorot lampu mobil, saya melihat warna putih pekat mengambang di udara. Kabut tebal sedang mengepung kami. Jarak pandang tak lebih dari tiga meter ke depan. Mobil terus merayap. Mesinnya terdengar mendengus keras, seolah sedang berjuang di jalan yang terus mendaki, sempit dan berkelok-kelok. Dalam cemas malam itu, saya tak henti merapal doa.

Saya sudah tak mampu lagi memicingkan mata. Mobil Elf yang saya tumpangi masih berjuang menembus kabut. Malam terasa semakin kelam dan mencemaskan di tengah kabut tebal begini. Seolah-olah hanya mobil kami yang melewati jalan itu. Hanya sesekali mobil saya berpapasan dengan mobil lain. Setelah itu, sunyi dan gulita di kanan, kiri, belakang dan beberapa meter di depan sana. Perjalanan menjadi terasa sangat panjang. Beruntung pak sopir kami awas dan mampu mengendalikan mobilnya dengan baik, sehingga kegelisahan saya sedikit berkurang.

_MG_5996-1
Kendaraan pengunjung parkir berjajar di jalan menuju Penanjakan. Saya memotretnya sewaktu turun dari Penanjakan.

Saya sedang dalam perjalanan menuju Cemoro Lawang, desa yang menjadi pintu gerbang Gunung Bromo. Ini adalah perjalanan saya bersama teman kantor untuk pertama kalinya, dan dalam jumlah yang besar. Februari 2016, ketika saya melakukan perjalanan ini, Gunung Bromo sedang dalam status siaga karena erupsi sejak menjelang akhir tahun sebelumnya. Jalur wisata ke Gunung Bromo hanya dibuka lewat satu pintu, yaitu Cemoro Lawang yang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo. Karena itulah, kami yang sebelumnya menghabiskan waktu di sekitar Malang, harus berputar melalui jalur pantura yang lebih jauh, melewati  Probolinggo dan Sukapura.

Dalam status siaga tersebut, tidak semua obyek wisata dibuka untuk pengunjung. Padang pasir dan kawah Bromo ditutup karena jarak aman erupsi 2,5 km dari puncak Bromo. Jadilah kami hanya menikmati pemandangan Bromo dan beberapa gunung di sekelilingnya dari Penanjakan.

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung api yang masih aktif. Asap putih tak henti mengepul dari kalderanya yang menganga lebar. Justru pemandangan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Keindahan Gunung Bromo, yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu, bahkan sudah sohor hingga ke mancanegara sejak dulu. Namun, di balik keindahannya, Gunung Bromo juga menyimpan bahaya yang dapat mengancam setiap saat. Erupsi bisa terjadi kapan saja, sebagaimana gunung api aktif pada umumnya.

Di luar soal ancaman erupsi, Gunung Bromo juga terkait erat dengan berbagai mitos, legenda dan kepercayaan nenek moyang. Begitu pun dengan masyarakat Suku Tengger yang mendiami daerah sekitarnya. Nama Bromo sendiri berasal dari kata Brahma, salah satu nama dewa agama Hindu. Gunung Bromo adalah gunung yang suci, terutama bagi masyarakat Tengger. Setiap purnama pada bulan kesepuluh penanggalan Jawa, masyarakat Tengger melakukan upacara Kasada di gunung ini. Upacara Yadnya Kasada adalah persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur di Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo yang berlanjut di puncak Gunung Bromo. Selain wujud syukur, upacara ini juga terkait legenda pengorbanan putra dari Rara Anteng dan Jaka Seger yang dipercaya sebagai leluhur Suku Tengger.

 

1. Foto utama
Asap tebal sisa erupsi masih mengepul dari kaldera Gunung Bromo.

Dari kursi di barisan belakang, saya mendengar sopir beberapa kali menelpon seseorang. Terakhir ia bertanya tentang kondisi di atas. Ia juga bertanya apakah kondisinya memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan atau tidak. Akhirnya, seseorang yang ditelepon itu, yang belakangan saya ketahui adalah pengemudi jeep yang akan mengantar kami menuju Gunung Bromo, memutuskan untuk menjemput kami di titik tertentu. Sejurus kemudian, di tengah kabut tipis yang masih menyelimuti, dua orang datang menjemput dan memandu kami menuju penginapan.

Kami tiba di penginapan yang terletak di bawah gerbang masuk ke Bromo lewat tengah malam. Kabut tak tampak di sini, hanya basah sisa hujan beberapa waktu lalu terlihat di sana-sini. Saya menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang kaku oleh dinginnya udara pegunungan. Rasa dingin ini suda tidak begitu asing. Hawa dingin yang seperti membawa saya ke masa beberapa tahun silam semasa aktif di Mapala, waktu saya masih suka, meski tidak sering, mendaki gunung. Bagi saya, gunung tak pernah jemu memberi rasa damai. Keramahan penduduk serta para pendaki, keheningannya, suara-suara serangga hutan dan hembusan anginnya selalu menawarkan kedamaian. Apakah lereng dan puncak gunung itu masih menawarkan kedamaian dan keheningan saat ini?

Beberapa saat setelah kami masuk ke penginapan, dua pedagang mendatangi kami. Tengah malam buta begini, di mana kebanyakan orang tenggelam dalam mimpi, mereka sibuk mencari rizki. Dua pedagang itu menawarkan barang yang nyaris sama: kaos tangan, masker, syal, kupluk, kaos kaki, dan cindera mata bertuliskan “Bromo” lainnya. “Buat kenang-kenangan, mas,” katanya menawarkan. Saya membeli sepasang kaos tangan dan masker karena tak tega sekaligus tak tahan dengan kegigihan mereka menawarkan dagangan. Kami sempat berbincang, dan saya bertanya banyak hal terkait erupsi Gunung Bromo. Saya menanyakan kondisi pengunjung di Bromo saat ini. “Ya, beginilah, mas. Masih sepi,” kata salah satu penjual. “Hanya beberapa pengunjung yang datang, meskipun Bromo sudah dibuka. Mungkin belum tahu.”

Hujan belum reda sama sekali. Sebentar-sebentar gerimis turun. Dua pedagang itu sibuk menyelamatkan barang dagangannya dari guyuran hujan. Hujan telah menyertai kami sejak masih di Malang. Bahkan, sampai menggagalkan rencana menikmati indahnya malam di alun-alun Malang. Saya memang tak bisa mungkir bahwa musim hujan belum rampung.

*****

Rasanya berat saya membuka mata. Saya baru tidur sebentar. Tapi, saya mesti beranjak. Ini waktunya menikmati keindahan Gunung Bromo ketika matahari terbit. Saya bersemangat, meski kantuk masih bergelayut di mata. Segera saya gosok gigi, cuci muka, dan menyiapkan bekal untuk saya bawa. Tak lupa saya siapkan peralatan memotret dan alat tulis.

Tiga buah jeep telah menanti di depan penginapan. Rombongan kami dibagi menjadi tiga kelompok. Sungguh, Mbak Meta, kolega satu tim saya di kantor, bak agen perjalanan profesional. Ia sudah mengatur segala keperluan perjalanan kami, sejak dari pembelian tiket, akomodasi, rencana perjalanan, dan lainnya. Begitu pula dengan pembagian kendaraan malam ini, nama-nama kami telah ditentukan ikut mobil yang mana.

Perjalanan menuju Penanjakan hanya butuh waktu beberapa menit. Jalan yang kami lalui sudah beraspal, meskipun rusak di beberapa titik. Perjalanan dengan mobil dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami berjalan dalam gelap karena ternyata banyak di antara kami yang tidak membawa senter.

Beberapa pengunjung sudah berada di titik pandang (view point) Penanjakan 2 ketika kami sampai. Penanjakan 2 adalah istilah populer untuk Seruni Point yang masuk di wilayah Desa Seruni, Sukapura, Probolinggo, yang terletak di punggung Gunung Penanjakan. Saya segera mencari tempat di tepi agar tidak terhalang pengunjung lain. Beberapa kali saya memencet tombol rana, mencoba memotret ke dalam gelap. Beberapa kali itu pula kamera saya tidak mau fokus. Ah, mana bisa memotret tanpa bantuan cahaya sama sekali.

Belum lama saya berdiri, gerimis turun kembali. Badan saya sedikit menggigil. Saya lalu pindah mencari tempat berteduh, ke bawah naungan bangunan tembok semacam pos penjagaan. Saya mulai gelisah karena gerimis belum juga reda, malah sesekali sedikit deras. Setelah pindah ke sana-kemari karena bosan, saya duduk di tengah bangunan itu. Kini kantuk mulai menyerang. Saya menyandarkan punggung pada teman yang duduk membelakangi saya. Saya memejamkan mata.

_MG_5975-1
Di punggung Gunung Penanjakan, sejauh mata memandang hanya putih kabut.

Hujan berhenti ketika subuh sudah baru saja tiba, tapi titik-titik air masih turun dari langit. Saya keluar dari bangunan itu kemudian berjalan ke sekeliling. Seorang fotografer yang tadi berdiri di atas bangunan sejak saya datang, masih setia di depan tripodnya. Ia berlindung di balik payung. Saya kagum dengan kegigihannya, sadar bahwa fotografer bukan profesi gampang. Tidak ada tanda-tanda matahari akan muncul. Dalam jarak tertentu, saya hanya melihat warna putih di segala penjuru. Halimun turun di Penanjakan pagi itu. Langit juga tidak menampakkan tanda-tanda pagi itu akan cerah.

Saya mendesah. Ini pertama kalinya saya ke Gunung Bromo, dan saya akan pulang tanpa gambar sebagaimana yang saya bayangkan. Sebelum berangkat, saya sudah melihat banyak foto untuk mendapatkan gambaran kondisi dan sudut pandang pemotretan. Di pesawat penerbangan Jakarta menuju Surabaya, saya juga membuat sketsa foto yang akan saya ambil. Saya sudah memetakan dari arah mana matahari akan terbit serta memetakan lokasi tempat saya memotret melalui peta Google. Ternyata, semua itu tidak berarti di hadapan kehendak alam.

Lebih dari satu jam setelah waktu matahari terbit, kabut tebal belum mau menyingkir. Bahkan, rintik gerimis masih jatuh sesekali. Saya mengabadikan suasana pagi itu dengan kamera, sebelum turun bersama rombongan. Di tengah perjalanan, hujan kembali turun. Beberapa kali saya mengelap kamera yang basah oleh air hujan. Tapi, saya tak berhenti mengambil foto.

_MG_5980-1

Pada waktu turun dari Penanjakan juga masih hujan.

_MG_5993-1

Jalanan becek, kotoran kuda, dan parkir dua sisi sepanjang jalan seolah bersekutu.

Beberapa meter dari hotel Lava View Lodge, saya memandang Gunung Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna putih keabuan. Sementara Gunung Batok yang berdiri di sebelahnya tertutup kabut hampir separuhnya. Di sebelahnya, Pura Luhur Poten tampak kecil berbanding dengan gunung-gunung itu.

Matahari mulai menyembul dari balik awan. Dari kaki langit, sinarnya memancarkan kehangatan. Menyapa bumi Cemoro Lawang yang basah sejak semalam. Kami bersiap turun menuju Surabaya. Dalam hati saya bertekad, kelak saya akan kembali ke Gunung Bromo demi menebus rasa kecewa.

 

Iklan

2 thoughts on “Halimun Turun di Penanjakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s