Dieng Culture Festival, Pesta Rakyat di Tanah Para Dewa

Minggu pertama bulan Agustus tahun kemarin, 2016, Dieng Culture Festival digelar untuk ketujuh kalinya. Ini berarti, pesta rakyat ini sudah berlangsung selama tujuh tahun, waktu yang tidak pendek untuk secara rutin menggelar acara festival. Dalam kurun waktu itu pula, festival budaya Dieng tak pernah sepi. Para pengunjung datang dari berbagai daerah yang rata-rata adalah anak-anak muda.

Dieng Culture Festival berlangsung selama tiga hari di akhir pekan. Berbagai acara digelar, mulai dari pameran produk dan kuliner masyarakat setempat, pementasan kesenian tradisional, pementasan musik, festival film, dan kemudian ditutup dengan ruwatan anak gimbal. Acara dipusatkan di lapangan kompleks Candi Arjuna.

Dieng Culture Festival menjadi semacam “pesta” rakyat Dieng yang melibatkan berbagai pihak. Berikut saya tampilkan beberapa foto pada waktu saya berkunjung ke acara tersebut. Sayangnya, saya tidak banyak memperoleh foto karena ternyata dinginnya Dieng membuat saya malas bergerak…he..he..he.

_mg_8204-1
Cak Nun beserta Kiai Kanjeng mengisi acara dialog budaya di hari pertama festival.
_mg_8311-1
Anji, pelantun tembang “Dia” membuat baper para penonton Jazz Atas Awan yang menjadi bagian festival ini.
_mg_8309-1
Anji menjadi bintang tamu di acara Dieng Culture Festival dan merupakan kejutan bagi pengunjung karena sebelumnya tidak disebut di agenda acara.

 

_mg_8353-1
Selain Anji, ada juga Mus Mujiono yang menjadi bintang tamu. Maaf, kalau saya salah, saya bukan penggemar musik jazz.
_mg_8305-1
Melepaskan lampion seperti melepas pergi apa yang kita sayangi, meski sayang kita harus rela ia mencari jalan sendiri. Awas, jangan baper!

_mg_8324-1

Acara pelepasan lampion. Banyak yang sudah tidak sabar, sehingga beberapa sudah mengangkasa.

_mg_8326
Sebelum berangkat, saya sudah membayangkan foto seperti ini, low angle dari bawah. Meski tidak sama seperti bayangan semula, saya senang dengan foto ini.
_mg_8382-1
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan sambutan sebelum acara potong rambut gimbal.
_mg_8406-1
Setelah memberikan sambutan, Pak Ganjar juga memotong rambut si anak gimbal.
_mg_8375-1
Para sesepuh Dieng menyapa penonton sebelum ritual dimulai. Ada yang kangen Mbah Naryono?
_mg_8369-1
Para pengunjung di sebelah kanan dan depan panggung sebelah kanan. Kamu di sebelah mana?
_mg_8409-1
Pengunjung di belakang saya sebelah kanan. Penuh, bukan? Jika ingin memotret sebaiknya datang duluan atau gunakan lensa tele. 
_mg_8428-1
Ini beberapa anak yang mengikuti ruwatan. Umur mereka tidak sebaya karena ruwatan harus dari keinginan si anak sendiri.
_mg_8446-1
Meski dilaksanakan di siang bolong, mendung menutup matahari waktu acara.
_mg_8427-1
Pemotongan rambut gimbal disaksikan para sesepuh desa. 
_mg_8466-1
Potongan rambut beserta “ubo rampe”-nya dibawa ke Telaga Warna untuk dilarung. 
_mg_8495-1
Salah seorang sesepuh Dieng mempimpin acara larungan rambut gimbal.
_mg_8510-1
Potongan rambut sudah dilarung. Selanjutnya melarung sesaji ke Telaga Warna.
_mg_8528-1
Pelarungan potongan rambut gimbal merupakan simbol menghanyutkan kesialan si anak. 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s