Catatan Perjalanan dari Cap Go Meh Bogor 2017

Titik air hujan jatuh beberapa saat setelah kereta berhenti. Langit kota Bogor pucat kelabu. Serupa langit Jakarta ketika hujan berhenti satu jam lalu. Saya berjalan menuju pintu keluar stasiun, menyusuri deretan gerbong kereta commuterline yang baru saja saya tumpangi.  Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di kota ini. Sama seperti kunjungan yang pertama, kedatangan saya kali ini juga tanpa bekal yang cukup. Hanya peta rute acara festival Cap Go Meh yang saya dapat dari akun Instagram @cgmbogor_fest yang ingin saya tuju. Satu hal yang saya ingat, sebagaimana kata teman saya, festival berlangsung di depan gerbang Kebun Raya Bogor.

Saya sendiri belum punya bayangan seperti apa gerbang Kebun Raya Bogor yang dimaksud teman saya itu. Saya berhenti sejenak, berpikir, lalu menelpon teman di komunitas fotografi yang sudah datang lebih dahulu. “Pokoknya ikutin pagar itu aja, kami di sini, di tempat pertunjukan barongsai,” kata teman saya. Pagar yang mana saya masih belum jelas. Mungkin yang dimaksud pagar Kebun Raya Bogor, batin saya. Saya buru-buru menutupi percakapan telepon karena suara berisik di seberang sana, lalu keluar dari stasiun.

Peta dan transportasi berbasis digital menjadi pilihan ketika saya tak tahu arah. Saya segera buka aplikasi pemesanan ojeg lewat ponsel saya. Sial, beberapa pengemudi ojeg minta dibatalkan karena lokasi mereka jauh. Atas pentunjuk tukang parkir di taman sebelah Stasiun Bogor, saya naik angkutan kota. Beberapa waktu angkutan itu berjalan saya tak juga melewati Kebun Raya. Saya mulai sedikit panik. Saya sedang mengejar waktu. Akhirnya, demi melihat ojeg online berhenti di pinggir jalan, saya turun dari angkutan itu. “Pak bisa antar saya ke Kebun Raya Bogor, saya mau ke acara pawai?” tanya saya. “Tinggal jalan aja mas, kalau ngojeg harus muter jauh. Itu gerbangnya. Ikutin orang-orang itu saja, mas.” jawab si tukang ojeg. Bodohnya saya. Pintu gerbang Kebun Raya hanya beberapa puluh meter dari tempat saya berdiri. Saya berlalu dari pengemudi ojeg. Beberapa meter di depan, saya lihat beberapa rombongan menuju ke arah yang sama. Mereka pasti hendak ke acara festival, pikir saya. Saya mengikuti mereka.

Saya lega. Di sebelah kiri terpampang tulisan besar “Kebun Raya Bogor”. Saya menoleh ke kanan. Gerbang berwarna merah dengan tulisan Gerbang Surya Kencana terlihat megah.  Gerbang Surya Kencana penuh sesak. Kerumunan penonton menyemut mengelilingi pagar besi sepanjang jalan depan Vihara Dhanagun. Bayangan saya tentang festival Cap Go Meh dengan jalanan yang luas seperti di Jakarta tahun kemarin langsung lenyap. Saya merutuki diri sendiri karena minim informasi di acara kali ini. Tanpa mencari tahu kondisi dan situasi berlangsungnya acara.

Saya menyeruak di antara penonton. Saya benar-benar tidak tahu mesti ke mana. Saya hanya mengikuti naluri. Beberapa langkah, setelah berdesakan dengan penonton, jalan yang saya lalui buntu. Gerimis kembali turun. Saya keluar menuju ke tempat yang lebih bisa membuat saya bernapas. Saya memandang ke arah para fotografer dan para peserta karnaval yang dikepung pagar besi. Saya baru tahu belakangan bahwa menteri, walikota, dan para pejabat daerah datang, sehingga lokasi acara harus steril.

Gerimis terus turun. Akhirnya  saya tidak ke mana-mana. Saya hanya berdiri di depan pintu samping wihara sambil menunggu moment menarik untuk difoto. Beberapa kali saya mesti mengelap lensa dan kamera  yang basah. Lagi-lagi saya merutuki diri sendiri. Kenapa tadi memilih membawa payung daripada jas hujan. Tentu saja, tangan saya tidak pegang payung sambil memotret dengan kamera dslr.

Perayaan Cap Go Meh di Bogor tahun ini mengambil tema “Ajang Budaya Pemersatu Bangsa”. Sebuah tema yang pas dengan kondisi akhir-akhir ini. Ini adalah perayaan Cap Go Meh kedua yang saya ikuti. Tahun sebelumnya, saya mengikuti perayaan itu di Jakarta dalam acara Cap Go Meh Glodok yang mengambil Hanoman sebagai maskot. Belakangan saya baru ingat mengapa Jakarta menggelar perayaan Cap Go Meh tahun ini. Ini adalah tahun politik bagi Jakarta dan beberapa kota yang menggelar Pilkada. Dan persoalan SARA banyak digoreng untuk kepentingan politik.

Gerimis terus turun, sesekali agak deras. Saya terus memotret. Kali ini saya pindah posisi di pinggir jalan rute karnaval yang belum juga diberangkatkan. Jalanan di sini juga sesak penonton. Saya berjalan ke ujung jalan rute karnaval, setelah mendengar suara musik pertunjukan barongsai. Saya mengambil beberapa foto. Saya menyesal mengapa saya hanya membawa lensa tele dan lensa fix 50mm. Saya pikir, dari pengalaman Cap Go Meh di Jakarta, saya tidak bisa dekat dengan peserta karnaval. Nyatanya, saya hanya berjarak tidak lebih dari dua meter dari mereka.

Senja turun bersama rintik hujan yang berderai. Langit yang sedari tadi kelabu kini semakin gelap. Lampu-lampu mulai menyala. Beberapa kali foto saya kabur karena minim cahaya. Iso saya sudah mentok di 6400. Saya tidak bisa paksakan. Akhirnya saya mengganti foto dengan video dan mulai merekam. Saya berjalan  ke arah berlawanan dengan arah karnaval. Setelah dapat beberapa rekaman video, saya menyudahi aktivitas saya. Saya berjalan menuju Gerbang Surya Kencana. Saya keluar dari gerbang tersebut lantas menyetop kendaraan umum ke arah stasiun kemudian naik kereta kembali ke Jakarta.

Iklan

4 thoughts on “Catatan Perjalanan dari Cap Go Meh Bogor 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s