Situ Gunung, Antara Keindahan dan Rasa Kecewa

_mg_9513-1

Saya menunggu pagi dengan gelisah. Langit mulai terang. Saya sudah siap berangkat. Tapi, gerimis belum juga reda sejak saya bangun subuh tadi. Peralatan fotografi yang saya siapkan sejak tadi malam teronggok di samping tempat tidur. Saya berjalan mondar-mandir di kamar penginapan. Ah, cuaca memang tak selalu bisa kita ramalkan.

Saya melongok keluar dari pintu yang sedari tadi terbuka. Tampaknya hujan mulai berhenti. Segera saya gendong peralatan foto dan keluar menuju Danau Situ Gunung.

Situ Gunung, Sukabumi. Ini adalah perjalanan solo saya yang pertama kali. Perjalanan sendiri dalam pengertian yang sebenarnya, tanpa janji bertemu teman di suatu tempat atau janji bertemu seseorang di lokasi tujuan. Saya menikmati perjalanan ini. Pergi tanpa banyak rencana jauh hari sebelumnya, selain referensi foto-foto serta mempelajari peta keadaan danau untuk pemotretan. Sampai-sampai saya lupa kalau akhir-akhir ini hujan lebih sering turun meski mestinya sudah musim kemarau.

Sampai di Situ Gunung kabut tipis masih mengambang di sela pepohonan yang rimbun di sekeliling danau. Beberapa menit setelah saya tiba, gerimis kembali turun. Saya nekad membuka peralatan kamera, memasang tripod sembari berteduh di bawah pohon. Saya mengambil beberapa foto di bawah rintik hujan. Matahari tak muncul pagi ini. Artinya, gambar yang saya bayang-bayangkan sebelumnya juga tidak tercipta. Tetapi, tentu saja saya tidak berhenti memotret.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, Situ Gunung merupakan danau buatan. Danau ini terletak di sisi selatan kawasan Taman Nasional Gede Pangrango yang terbentang seluas kira-kira 22.851 hektar. Taman nasional ini secara administratif berada di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Taman Nasional Gede Pangrango mengambil nama dua gunung di wilayah ini, yakni Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Saya memandang ke arah hutan di seberang danau, berusaha menembus kelebatannya. Kabut tipis yang sedari tadi menyelimuti rimbun daun-daun mulai berarak pergi. Pandangan saya tertumbuk pada bangunan tua di seberang danau, bangunan bercat kusam beratap rompang.

****

Sehari sebelumnya saya sudah menyambangi tempat ini. Memperkirakan arah sinar matahari jatuh dan posisi saya memotret nantinya. Saya mengambil beberapa foto dan video lalu berjalan ke arah musholla. Kebetulan, musholla tersebut bersebelahan dengan warung. Saya memesan kopi sambil mengorek keterangan si bapak penjual tentang danau ini.

“Pak, dulu kayaknya ada dermaga kayu gitu sekarang di mana, ya?” Saya memulai percakapan.
“Iya, mas. Sekarang mah udah nggak ada. Nggak keurus. Dulu ada dua dermaga. Dulu ada penginapan segala. Sekarang sejak diambil alih pemerintah dari swasta penginapan itu malah nggak keurus.” Si Bapak lalu menjelaskan.

Benar perkataan si Bapak. Saya berdiri di depan bekas penginapan mulai runtuh di sana sini. Ada bekas dermaga yang tinggal tiang-tiang penyangga. Beberapa saung mulai hancur dan dinding penginapan penuh coretan. Sepertinya kejayaan tempat ini tinggal sisa-sisa, pikir saya. Saya mengelilingi bangunan bekas penginapan itu. Ada beberapa rumah dengan isi sekitar empat kamar. Semakin saya lama berkeliling, hati saya menjadi makin sedih. Betapa kita sering tidak bisa merawat apa yang telah kita bangun.

Di antara bangunan-bangunan itu, ada satu bangunan yang paling besar, semacam aula atau ruang pertemuan. Bangunan ini sama parahnya dengan yang lain. Atap bagian depan sudah ambrol. Beberapa pintu dan jendela hilang entah ke mana. Sementara lumut dan jamur mulai tumbuh di dinding dan sebagian atapnya. Saya menarik napas panjang. Beberapa hari sebelum berangkat, ketika mencari informasi penginapan, saya sempat membaca tulisan tentang penginapan ini. Dan saya baru menyadari ketika membuka kembali blog itu ternyata posting tulisan itu tahun 2011, lima tahun yang lalu. Apakah kehancuran begitu cepat merambah tempat ini?

Saya mengambil beberapa foto tempat ini sebelum akhirnya senja makin dekat. Angin tetap tak bergerak semenjak saya tiba. Suara khas serangga hutan masih riuh bersahut-sahutan. Di seberang sana, terlihat serombongan pengunjung bersendau-gurau di pinggir danau. Sebagian yang lain naik rakit. Rakit itu menjadi penopang hidup warga sekitar danau selain warung-warung di pinggir danau. Ada dua buah rakit yang dikelola penduduk Desa Gede Pangrango, desa yang menjadi pintu masuk kawasan Situ Gunung. Dengan ongkos 15 ribu per orang, pengunjung bisa berkeliling danau menaiki rakit tersebut. Saya melangkah menuju tepian danau yang ramai itu. Meninggalkan bangunan di belakang saya yang tampak semakin compang-camping. Jelang magrib saya bergegas pulang ke penginapan.

****

Sudah jam tujuh lebih. Tampaknya memang matahari tidak muncul pagi ini. Saya bergegas meninggalkan Situ Gunung menuju ke tempat lain: Curug Sawer. Untuk menuju Curug Sawer, saya harus trekking di jalan setapak menyusuri hutan Gede Pangrango. Kondisi jalan yang licin karena hujan membuat saya mesti ekstra hati-hati. Jalanan yang saya lalui naik-turun, sebagian tersusun dari bebatuan dan sebagian yang lain hanya tanah. Selain jalan yang licin, sepanjang jalan menuju Curug Sawer juga banyak lintah. Kaki saya pun sempat dihinggapi lintah yang akhirnya saya biarkan sampai tubuhnya gendut dan melepaskan diri.

Setelah satu jam perjalanan akhirnya saya sampai di Curug Sawer. Curug ini adalah air terjun beraliran deras setinggi antara 25 hingga 30 meter. Debit air dan tingginya air terjun ini membuat air jatuh dengan keras sehingga tercipta gemuruh. Air yang terhempas dari atas menciptakan gelombang angin basah ke sekeliling air terjun. Saya mengambil jarak aman untuk memotret. Beberapa kali saya mesti megeringkan filter CPL dan ND karena basah. Karena sudah capek dan takut pulang terlalu sore, saya tidak terlalu lama di air terjun ini. Saya hanya mengambil beberapa foto dengan dari beberapa sudut pengambilan. Setelah itu saya meninggalkan Curug Sawer.

Sebenarnya ada rasa enggan meninggalkan tempat ini. Terlebih saya mesti kembali jalan naik turun sejauh hampir 2 kilometer. Sebuah jarak yang lumayan jauh untuk medan yang tidak bersahabat. Apa hendak dikata, saya mesti mengejar jadwal kereta yang berangkat sore itu juga.

Kawasan Situ Gunung dan Curug Sawer cocok bagi penyuka kegiatan alam seperti saya. Sayang, beberapa fasilitas di tempat ini terasa sangat kurang. Ini juga yang dikeluhkan pedagang yang saya ajak berbincang ketika hari pertama saya tiba di danau itu. “Nggak tahu mas ke mana uangnya.” Memang, tiket masuk seharga 18 ribu di hari libur dan 16 ribu per orang di hari biasa bukan nilai yang murah jika tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadahi. Misalnya, jalan berbatu dari pintu masuk menuju danau akan membuat Anda terguncang seperti naik kuda jika naik motor. Begitu pula kondisi di danau minim fasilitas dan sampah yang berserakan di dalam danau.

Matahari telah berada di atas kepala ketika saya mulai meninggalkan penginapan. Dari depan penginapan saya menumpang angkutan jurusan Cisaat-Kadudampit ke stasiun untuk selanjutnya naik kereta jurusan Bogor dan commuter line menuju Jakarta. Meski banyak hal yang membuat saya tidak puas, namun keindahan Situ Gunung membuat saya tetap ingin berkunjung kembali.

Catatan:
Saya melakukan perjalanan ini pada 1-2 Oktober 2016.

Iklan

One thought on “Situ Gunung, Antara Keindahan dan Rasa Kecewa

  1. […] Matahari mulai menyembul dari balik awan. Dari kaki langit, sinarnya memancarkan kehangatan. Menyapa bumi Cemoro Lawang yang basah sejak semalam. Kami bersiap turun menuju Surabaya. Dalam hati saya bertekad, kelak saya akan kembali ke Gunung Bromo demi menebus rasa kecewa. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s